Remaja

Pengertian Remaja

Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Batasan usia Remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat. Remaja menurut BKKBN adalah penduduk laki-laki atau perempuan yang berusia 10-19 tahun dan belum menikah. Sedangkan menurut WHO adalah penduduk laki-laki atau perempuan yang berusia 15- 24 tahun ( BKKBN, 2003).
Remaja adalah masa transisi antara masa anak dan dewasa, dimana terjadi pacu tumbuh, timbul ciri-ciri seks sekunder, tercapainya fertilitas dan terjadi perubahan-perubahan psikologik serta kognitif (Soetjiningsih, 2004).
Batasan remaja menurut WHO:
Dalam tumbuh kembangnya menuju dewasa, berdasarkan kematangan psikososial dan seksual, semua remaja akan melewati sebagai berikut:
a. Masa remaja awal /dini (Early adolescence) umur 11 – 13 tahun.
b. Masa remaja pertengahan (Middle adolescence) umur 14 -16 tahun.
c. Masa remaja lanjut (Late adolescence) umur 17 – 20 tahun.
(Soetjiningsih, 2004).

Tahapan Remaja Laki-laki perempuan
Umur (tahun) Umur (tahun)
Pra remaja
Remaja Awal
Remaja Menangah
Remaja Akhir
<11 

9-13
13-16
> 16

< 11
11-14
14-17
> 17

Tabel 2.1 Tahapan perkembangan remaja
Sumber : Dikutip dari PPFA, Adolescence Sexuality, 2001.

Ciri-ciri perkembangan remaja.
Dalam lingkungan sosial tertentu, masa remaja bagi pria merupakan saat diperolehnya kebebasan. Sementara untuk remaja wanita merupakan saat mulainya segala bentuk pembatasan.
Menurut ciri perkembangannya masa remaja dibagi menjadi tiga periode:
1)        Masa Remaja Awal ( 10-12 tahun), Ciri khasnya :

  • a)      Lebih dekat dengan teman sebaya.
  • b)      Ingin Bebas
  • c)      Lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai berpikir abstrak.

2)        Masa Remaja Tengah (13-15 tahun), ciri khasnya :

  • a)      Mencari identitas diri.
  • b)      Timbulnya keinginan untuk kencan.
  • c)      Punya rasa cinta yang mendalam
  • d)     Mengembangkan kemampuan berpikir abstrak.
  • e)      Berkhayal tentang aktivitas seks.

3)      Masa Remaja Akhir (16-19 tahun), ciri khasnya :

  • a)      Pengungkapan kebebasan diri.
  • b)      Lebih selektif dalam mencari teman sebaya.
  • c)      Punya citra jasmani diri.
  • d)     Dapat mewujudkan rasa cinta.
  • e)      Mampu berfikir abstrak.

(BKKBN, 2003)

Pubertas
a. Pengertian

Beberapa pengertian mengenai pubertas yaitu:
Menurut Prawirohardjo (1999: 127) pubertas merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa.
Menurut Soetjiningsih (2004: 134) pubertas adalah suatu periode perubahan dari tidak matang menjadi matang.
Menurut Monks (2002: 263) pubertas adalah berasal dari kata puber yaitu pubescere yang artinya mendapat pubes atau rambut kemaluan, yaitu suatu tanda kelamin sekunder yang menunjukkan perkembangan seksual.
Menurut Root dalam Hurlock (2004) Pubertas merupakan suatu tahap dalam perkembangan dimana terjadi kematangan alat–alat seksual dan tercapai kemampuan reproduksi.

  1. Perubahan Fisik

Selama pertumbuhan pesat masa puber, terjadi empat perubahan fisik penting dimana tubuh anak dewasa: perubahan ukuran tubuh, perubahan proporsi tubuh, perkembangan ciri-ciri seks primer dan perkembangan ciri-ciri seks sekunder (Hurlock, 2004: 188).
Perubahan primer
Perubahan sekunder
Perubahan primer pada masa puber
Perubahan primer pada masa pubertas adalah tanda-tanda/perubahan yang menentukan sudah mulai berfungsi optimalnya organ reproduksi pada manusia.
Pada pria – Gonad atau testis yang terletak di skrotum, di luar tubuh, pada usia 14 tahun baru sekitar 10% dari ukuran matang. Kemudian terjadi pertumbuhan pesat selama 1 atau 2 tahun, setelah itu pertumbuhan menurun, testis sudah berkembang penuh pada usia 20 atau 21 tahun. Kalau fungsi organ-organ pria sudah matang, maka biasanya mulai terjadi mimpi basah.
Pada wanita – Semua organ reproduksi wanita tumbuh selama masa puber, meskipun dalam tingkat kecepatan yang berbeda. Berat uterus anak usia 11 atau 12 tahun berkisar 5,3 gram, pada usia 16 rata-rata beratnya 43 gram. Tuba falopi, telur-telur, dan vagina juga tumbuh pesat pada saat ini. Petunjuk pertama bahwa mekanisme reproduksi anak perempuan menjadi matang adalah datangnya menstruasi.(Hurlock, 2004: 210).

b. Perubahan sekunder pada masa pubertas

Perubahan sekunder pada masa pubertas adalah perubahan-perubahan yang menyertai perubahan primer yang terlihat dari luar.
1)      Pada perempuan: lengan dan tungkai kaki bertambah panjang; pertumbuhan payudara; tumbuh bulu-bulu halus disekitar ketiak dan vagina; panggul mulai melebar; tangan dan kaki bertambah besar; tulang-tulang wajah mulai memanjang dan membesar; vagina mengeluarkan cairan; keringat bertambah banyak; kulit dan rambut mulai berminyak; pantat bertambah lebih besar.
2)      Pada pria: lengan dan tungkai kaki bertambah panjang; tangan dan kaki bertambah besar; pundak dan dada bertambah besar dan membidang; otot menguat; tulang wajah memanjang dan membesar tidak tampak seperti anak kecil lagi; tumbuh jakun; tumbuh rambut-rambut di ketiak, sekitar muka dan sekitar kemaluan; penis dan buah zakar membesar; suara menjadi besar; keringat bertambah banyak; kulit dan rambut mulai berminyak.(Sarlito, 2009: 1).
c. Perubahan Emosional/Psikologis
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “Badai dan Tekanan”, sesuatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Pertumbuhan yang terjadi terutama bersifat melengkapi pola yang sudah terbentuk pada masa puber. Adapun meningginya emosi terutama karena anak laki-laki dan perempuan berada dibawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu (Hurlock, 2004: 212-213).
Masa remaja merupakan “badai dan tekanan”, masa stress full karena ada perubahan fisik dan biologis serta perubahan tuntutan dari lingkungan, sehingga diperlukan suatu proses penyesuaian diri dari remaja.
Tidak semua remaja mengalami masa badai dan tekanan. Namum benar benar juga bila sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru. (Nurfajriyah, 2009: 1).

Problematika Remaja dan Pubertas
Masalah Pubertas dan Cara Mengatasinya
Remaja adalah periode transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa. Pada masa ini seringkali timbul kesulitan serta perselisihan, satu diantaranya yang paling sering terjadi adalah perselisihan antara Anak dengan Orangtua. Hal ini terjadi karena secara fisiologis si anak sedang mengalami sesuatu yang baru dan meresahkan dirinya. Adapun faktor yang menyebabkan keresahan tersebut antara lain adalah aktifitas hormonal pada usia puber juga faktor emosional, psikologis dan sosial.
Periode Yang Terjadi pada Masa Pubertas

1)      Periode Depresi :
Periode ini biasanya akan berlangsung sekitar seminggu atau lebih, namun apabila depresi sudah terasa tidak wajar lagi (terjadi sampai berlarut-larut) mungkin ini disebabkan karena kecemasan atau kesulitan emosional. Biasanya anak yang mempunyai sifat tertutup (introvert) cenderung mengalami depresi yang lebih lama bila dibandingkan dengan anak yang mempunyai sifat terbuka (extrovert), karena anak introvert tidak bisa mengungkapkan apa sebenarnya yang menjadi akar dari kecemasan serta kesulitan emosionalnya itu kepada orang lain.
2)      Periode Kecemasan :
Pada periode ini Remaja seringkali bersikap tidak biasa, seperti : cepat tersinggung, sangat agresif, suka menggerutu dan kasar atau kadang yang terjadi justru kebalikannya : bersikap kekanakan serta sangat tergantung kepada Orangtuanya.
3)      Periode Kerewelan :
Umumnya periode ini ditemukan pada Remaja Putri, misalnya dalam hal memilih pakaian, ataupun memilih makanan. Pada periode ini kaum Remaja Putri ada yang melakukan “diet ketat” untuk menjaga keindahan tubuh dan penampilannya, tapi ada juga yang justru melakukan sebaliknya yaitu lebih rakus dan tidak perduli pada penampilan.
4)      Periode Pembangkangan :
Seringkali Remaja seakan menjadi tidak patuh kepada apa yang menjadi aturan Orangtuanya. Sepanjang tidak melanggar norma Agama, Kesusilaan dan juga tidak membahayakan bagi keselamatan serta kesehatan dirinya, Orangtua sebaiknya bisa bertindak lebih bijak untuk memberi kesempatan kepada Remaja agar ia dapat mengambil keputusan sendiri serta bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan. Hal ini selain dapat menambah rasa percaya diri Remaja tersebut sekaligus juga bisa menghindari timbulnya pertengkaran (konflik) yang berkepanjangan antara Orangtua dengan Anak.
5)      Periode Ingin Tampil Beda :
Kebanyakan para Remaja mengalami periode ini, antara lain bisa terlihat dari caranya berpakaian, bergaya, berbahasa dan masih banyak lagi.
Sepanjang yang dilakukannya tidak bertentangan dengan norma Agama, Kesusilaan serta tidak membahayakan bagi diri Remaja tersebut, sebaiknya Orangtua tidak perlu merasa cemas. Mereka melakukan hal ini hanya karena sedang dalam tahap mencari identitas diri, dan ingin diterima dengan baik sebagai anggota kelompoknya.Seiring dengan bertambahnya usia, perlahan-lahan semua itu akan hilang dengan sendirinya.

Cara Menanggulangi Masalah Remaja Pubertas

  1. Orangtua sebaiknya jangan membahas suatu masalah dengan cara sikap seolah sedang menginterogasi atau mendoktrin, karena hal ini akan membuat Remaja tersebut semakin takut untuk mengemukakan apa yang sedang dirasakannya dan itu akan mengakibatkan semakin jauhnya jarak antara Orangtua dengan Anak.
  2. Sebaiknya ajaklah Remaja tersebut untuk berbicara dari hati ke hati dan dalam suasana yang santai, bahkan tak ada salahnya apabila dalam pembicaraan tersebut sesekali diselingi juga dengan gurauan ringan.
  3. Ciptakanlah suasana demokratis dalam rumah tangga, dimana semua anggota keluarga bisa mengemukakan pendapatnya, tanpa harus merasa malu apalagi takut dengan anggota keluarga lainnya, terutama kepada Orangtua.
  4. Biasakanlah dalam keluarga untuk saling menghargai serta menghormati pendapat orang lain, tanpa memandang apa jenis kelamin serta usianya.

ASUHAN ANTE NATAL

Posted: February 26, 2011 in Uncategorized

Tujuan Asuhan Antenatal :

  • Kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi, melalui edukasi : nutrisi, personal hygiene dan proses persalinan
  • Deteksi & penanganan komplikasi kehamilin
  • Mempersiapkan dan merencanakan persalinan dan terutama bila terjadi komplikasi
  • Membantu ibu untuk dapat menyusui secara ekslusif, melalui masa nifas secara normal dan perawatan yang baik terhadap bayi baik secara fisik, psikologi dan sosial.

Kunjungan pertama :

Harus seawal mungkin.

  • Anamnesis : umur, paritas, HPM, riwayat haid
  • Pemeriksaan fisik à TB, BB, T, dan pemeriksaan kehamilan.
  • Pemeriksaan laboratorium à Hb, Hmt, gol darah, rhesus
  • Pemeriksaan tambahan lain untuk memperoleh data (parameter) dasar
  • Support psikis à agar ibu hamil memiliki emosi stabil.

Tanda Kehamilan

Tanda pasti kehamilan :

  • Palpasi
  • Denyut jantung janin
  • Stetoskop Laennec /fetoscop à 18 minggu
  • Doppler : 12 minggu
  • Ultrasound :

6-7 minggu : fetal pool
7-8 minggu : denyut jantung janin
8-9 minggu : gerakan anak
9-10 minggu : plasenta
12 minggu : Diameter biparietal (BPD : biparietal diameter).

  • Tes hCG

Tanda Kemungkinan hamil :

à Amenorea , mual dan muntah, mastodinia, gerakan anak, frekuensi berkemih meningkat, konstipasi, penambahan berat badan, peningkatan suhu badan basal, kloasma


Menentukan usia kehamilan

¡ Naegele’s rule

§ Taksiran partus (TP : EDC : estimated day of confinement)

=(HPHT +7) (bulan-3) (tahunr +1)

è contoh : HPHT 26/4/2004

TP 3/2/2005

gambar

@Tinggi fundus uteri


¡ Quickening:

16 minggu pada multigravida

18 minggu pada primigravida

¡ Taksiran berat janin

Johnson’s estimate of fetal weight (EFW)

EFW = (fundal height – N) x155
§ N = 12, if the vertex is at or above the ischial spine.
§ N = 11, if the vertex is below the spines.
à Contoh :
G3P1A1, examination fundal heigh was 34 cm, the head is floating.
EFW = (34-12)x155 = 3410 g.
– Tinggi fundus uteri X lingkar perut setinggi pusat



Apa Yang Dilakukan Saat Pemeriksaan ANC

– Nilai Kesehatan ibu hamil

¡ Tentukan status kesehatan ibu

Identifikasi faktor risiko yang dapat mempengaruhi hasil luaran kehamilan

§ Usia à <> 40 tahun

§ Grande multipara

§ Tinggi badan : terlalu pendek ?

§ Riwayat obstetri yang lalu : ada komplikasi ? pembedahan ?

Yang paling penting adalah mengidentifikasi dan menangani faktor risiko dan komplikasi yang dialami oleh ibu hamil.

– Deteksi dan penanganan komplikasi

¡ Identifikasi adanya risiko perdarahan hamil muda, khususnya unsafe abortion perdarahan antepartum.

¡ Komplikasi lain : hypertensive disease, anemia, diabetes, malaria, STD, membutuhkan pemeriksaan yang lebih teliti

– Pantau dan catat dalam rekam medis

Tekanan darah

Nilai apakah terdapat edema
Tinggi fundus uteri
Denyut jantung janin
Presentasi janin

– Nutrisi ibu hamil

  • Gizi ibu berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan janin
  • Kebutuhan ibu hamil : 2300 kcal/ hari
  • Supplementary Suplemen lain perlu ditambahkan bila diyakini asupan zat penting dan mineral tidak adekuat f
  • Pemberian vitamin/suplemen oleh petugas kesehatan dapat membantu dalam meningkatkan kunjungan ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan
  • Amati adanya tanda-tanda anemia zat besi dan defisiensi iodine
  • Suplemen kalsium diberikan kepada ibu hamil untuk memenuhi kebutuhan janin dan cadangan kalsium ibu
  • Zat besi dibutuhkan oleh ibu hamil selain untuk janin, juga untuk mencegah pengurangan cadangan besi ibu, khususnya pada trimestert terakhir kehamilan Merupakan suplemen yang dianjurkan diberikan secara rutin kepada ibu hamil.

– Edukasi

§ Menentukan tempat untuk bersalin

§ Clean delivery

§ Perhatikan tanda bahaya kehamilan (perdarahan, nyeri perut, sakit kepala, pecah ketuban, anak tidak bergerak)

§ Kapan dan di mana tempat untuk mencari pertolongan bila terjadi komplikasi

§ Nutrisi ibu

§ STD/HIV/AIDS

§ Family planning


Pencegahan

– Pemberian zat besi dan asam folat à di negara berkembang anemia ibu hamil sekitar 60%

– Immunisasi toksoid tetanus

– supplemen vit A bagi yang membutuhkan (hati-hati, vit. A bersifat teratogenik)

– Pemberian antimalarials pada daerah endemik

– Antihelminthics (hookworm) di daerah endemik

– Garam beryodium [ada daerah endemik

TAHAP PEMERIKSAAN

– Catat nama, alamat, tanggal lahir, dan informasi sosial lain pasien

PEMERIKSAAN UMUM

– Tanda vital : tekanan darah, nadi , suhu, respirasi

– Catat berat badan, tinggi badan, status gizi

– Nilai kondisi umum (kulit, rambut, leher, payudara, abdomen, extremitas)

– Pemeriksaan panggul : vulvar , vagina, varisess, konsistensi serviks, posisi,

penipisan, dilatasi, massa, ukuran panggul.

ANAMNESIS

Riwayat obstetri

§ Hari pertama haid terakhir (HPHT)

▪ lama haid, reguler/ireguler

▪ Metode KB sebelum hamil

§ Gejala hamil :

▪ Mual & muntah

▪ Frekuensi berkemih meningkat

▪ Lelah yang berlebihan

▪ Nyeri payudara

▪ Gerakan anak sudah dirasakan atau belum

– Riwayat obstetri yang lalu

§ Gravid & paritas, jumlah anak hidup

§ Riwayat kehamilan sebelumnya

§ Riwayat ginekologi

§ Riwayat masalah medis

▪ DM, penyakit ginjal, hypertensi, penyakit jantung, thyrotoxicosis, TBC,

hepatitis, HIV

§ Riwayat keluarga

§ Medikasi, alergi obat , riwayat alergi lainnya

§ Faktor sosial

PEMERIKSAAN OBSTETRI

– Tinggi badan: panggul kecil ?

– Berat badan

– Tekanan darah : posisi baring miring kiri untuk menghindari takenan pada vena kava oleh rahim yang membesar

– Kepala & leher

§ Chloasma

§ Anemia

§ Ikterus

§ Dental hygiene

§ Thyroid

– Payudara

– jantung & paru-paru

– Abdomen

§ Striae gravidarum

§ Linea nigra

§ Hepatosplenomegaly ?

§ Fundal height

▪ Measurement of symphysial – fundal height

▪ Measurment of abdominal girth

▪ Leopold

▪ Denyut jantung janin

Leopold examination

PEMERIKSAAN PANGGUL

Tidak rutin dilakukan

§ External genitalia

§ Vagina

▪ sekresi serviks meningkat

§ Cervix

▪ lunak (tanda hegar)

§ Uterus

§ Adnexa

Clinical pelvimetri

Pemeriksaan bimanual


PEMERIKSAAN LABORATORIUM

§ Full blood count

§ Urinalysis

§ HBs Ag

§ VDRL

DIAGNOSIS, PROGNOSIS, PERENCANAAN & PENANGANAN


– Diagnosis à usia kehamilan dan komplikasi yang ditemukan

– Prognosis à prediksi hasil taksiran persalinan, apakah lahir pervaginam atau

kemungkinan seksio sesar.

– Plan & treatment : perawatan yang diperlukan oleh ibu hamil

Aktivitas selama hamil

– Boleh mengerjakan pekerjaan sehari-hari selama tidak memberikan gangguan.

– Aktivitas dibatasi bila didapatkan penyulit à partus prematurus imminens, ketuban pecah, menderita kelainan jantung.

– Coitus tidak dibolehkan bila:

§ Ada perdarahan vaginal

§ Riwayat abortus berulang

§ Abortus/partus prematurus imminens

§ Ketuban pecah

§ Serviks telah membuka

Pakaian selama hamil

– Hindari palaian yang terlalu ketat à mengganggu aliran darah balik

– Sepatu hak tinggi akan menambah lordosis sehingga sakit pinggang bertambah

Defekasi

Defekasi menjadi tidak teratur karena:

§ Pengaruh relaksasi otot polos oleh estrogen

§ Tekanan uterus yang membesar

§ Pada kehamilan lanjut karena pengaruh tekanan kepala yang telah masuk panggul.

Konstipasi dicegah dengan:

§ Cukup banyak minum

§ Olah raga

§ Pemberian laksatif ringan à jus buah-buahan

Obat-obat selama hamil

Tahap paling kritis dalam perkembangan janin à minggu ke-2 hingga ke-8 pasca konsepsi (periode organogenesis)

Sifat teratogenik obat ditentukan oleh:

§ Cara kerja obat

§ Kemampuan obat menembus barrier plasenta

§ Periode kritis perkembangan janin

APN 58 Langkah

Posted: April 28, 2010 in Uncategorized

Untuk melakukan asuhan persalinan normal dirumuskan 58 langkah asuhan persalinan normal sebagai berikut (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, 2003):
1. Mendengar & Melihat Adanya Tanda Persalinan Kala Dua.
2. Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk mematahkan ampul oksitosin & memasukan alat suntik sekali pakai 2½ ml ke dalam wadah partus set.
3. Memakai celemek plastik.
4. Memastikan lengan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan dgn sabun & air mengalir.
5. Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kanan yg akan digunakan untuk pemeriksaan dalam.
6. Mengambil alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan, isi dengan oksitosin dan letakan kembali kedalam wadah partus set.
7. Membersihkan vulva dan perineum dengan kapas basah dengan gerakan vulva ke perineum.
8. Melakukan pemeriksaan dalam – pastikan pembukaan sudah lengkap dan selaput ketuban sudah pecah.
9. Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%.
10. Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai – pastikan DJJ dalam batas normal (120 – 160 x/menit).
11. Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, meminta ibu untuk meneran saat ada his apabila ibu sudah merasa ingin meneran.
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran (Pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman.
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran.
14. Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit.
15. Meletakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 – 6 cm.
16. Meletakan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong ibu
17. Membuka tutup partus set dan memperhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan
18. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.
19. Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5 – 6 cm, memasang handuk bersih untuk menderingkan janin pada perut ibu.
20. Memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janin
21. Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran paksi luar secara spontan.
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara biparental. Menganjurkan kepada ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakan kepala kearah bawah dan distal hingga bahu depan muncul dibawah arkus pubis dan kemudian gerakan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang.
23. Setelah bahu lahir, geser tangan bawah kearah perineum ibu untuk menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang tangan dan siku sebelah atas.
24. Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung kearah bokong dan tungkai bawah janin untuk memegang tungkai bawah (selipkan ari telinjuk tangan kiri diantara kedua lutut janin)
25. Melakukan penilaian selintas :
a. Apakah bayi menangis kuat dan atau bernapas tanpa kesulitan?
b. Apakah bayi bergerak aktif ?
26. Mengeringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan handuk/kain yang kering. Membiarkan bayi atas perut ibu.
27. Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus.
28. Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitasin agar uterus berkontraksi baik.
29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10 unit IM (intramaskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).
30. Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama.
31. Dengan satu tangan. Pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi), dan lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem tersebut.
32. Mengikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya.
33. Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di kepala bayi.
34. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 -10 cm dari vulva
35. Meletakan satu tangan diatas kain pada perut ibu, di tepi atas simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.
36. Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan kanan, sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati kearah doroskrainal. Jika plasenta tidak lahir setelah 30 – 40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan mengulangi prosedur.
37. melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso-kranial).
38. Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta dengan hati-hati. Bila perlu (terasa ada tahanan), pegang plasenta dengan kedua tangan dan lakukan putaran searah untuk membantu pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban.
39. Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus uteri dengan menggosok fundus uteri secara sirkuler menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi uterus baik (fundus teraba keras)
40. Periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan kanan untuk memastikan bahwa seluruh kotiledon dan selaput ketuban sudah lahir lengkap, dan masukan kedalam kantong plastik yang tersedia.
41. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Melakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.
42. Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam.
43. Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam.
44. Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1 mg intramaskuler di paha kiri anterolateral.
45. Setelah satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi Hepatitis B di paha kanan anterolateral.
46. Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.
47. Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi.
48. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
49. Memeriksakan nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan.
50. Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas dengan baik.
51. Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah di dekontaminasi.
52. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai.
53. Membersihkan ibu dengan menggunakan air DDT. Membersihkan sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai pakaian bersih dan kering.
54. Memastikan ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk membantu apabila ibu ingin minum.
55. Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%.
56. Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5% melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%
57. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
58. Melengkapi partograf.

Hello world!

Posted: April 28, 2010 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!